MERAWAT TRADISI LELUHUR: PETANI DUSUN GLONGGONGAN GELAR TASYAKURAN “KELEMAN” BERSAMA KEPALA DESA

(doc by : Yudha LHK)

Oleh : Yudha Laga Hadi Kusuma, S.Psi.,S.Kep.Ns.,M.Kes.
Petani Muda Glonggongan
Kepala Unit Usaha Taman Pujasera GGS Jaya Sumbertebu
Dosen Stikes Majapahit Mojokerto

Sebagai wujud syukur dan permohonan doa agar hasil panen melimpah, para petani di Dusun Glonggongan, Desa Sumbertebu, menggelar tradisi tasyakuran “Keleman”. Acara yang sarat akan nilai budaya dan religius ini dilaksanakan di halaman Pondok Pesantren Miftakhul Ulum Jaya Baru, yang juga merupakan kediaman Kepala Desa Sumbertebu.

Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan petani dan warga Dusun Glonggongan yang tampak antusias duduk bersama dalam suasana kekeluargaan yang erat (guyub rukun). Istimewanya, acara tasyakuran ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Sumbertebu, yang membersamai warganya dalam memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Filosofi Tradisi “Keleman”

Dalam tradisi pertanian Jawa, “Keleman” bukan sekadar ritual biasa. Secara bahasa, Keleman berasal dari kata ‘kelem’ (tergenang air) atau ada juga yang memaknai sebagai masa dimana tanaman padi mulai ‘meteng’ (bunting/berisi).

Filosofi utamanya adalah masa tenang, di mana air di sawah dicukupkan untuk menggenangi tanaman padi yang sedang dalam masa pengisian bulir. Pada fase krusial ini, petani berdoa agar tanaman padi diberikan keselamatan dari serangan hama, penyakit, dan bencana alam, serta agar bulir padi dapat terisi penuh (bernas) hingga masa panen tiba. Ini adalah bentuk tawakkal petani setelah melakukan ikhtiar bercocok tanam.

Sajian Khas Tradisi Desa

Suasana tasyakuran semakin terasa kental dengan hadirnya berbagai hidangan tradisional yang disajikan secara komunal. Menu-menu ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol kesederhanaan dan doa.

Para warga menyantap hidangan khas seperti Kue Pleret, Kue Kucur, dan Kue Rukuk-rukuk. Tak ketinggalan, Jajan Pasar yang beraneka ragam turut melengkapi sajian. Sebagai puncak hidangan utama, disajikan Tumpeng Panggang Ayam yang menjadi simbol rasa syukur dan doa yang menjulang tinggi kepada Sang Pencipta.

Mukhlason Rosyid, Kepala Desa Sumbertebu dalam kesempatan tersebut menyampaikan harapannya agar tradisi gotong royong dan doa bersama ini terus dilestarikan. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan ikatan persaudaraan antarwarga Desa Sumbertebu, khususnya para petani di Dusun Glonggongan, semakin kuat dan membawa keberkahan bagi kemajuan desa.

“Mugi-mugi panenane sae, barokah, lan wargane guyub rukun,” (Semoga panennya bagus, berkah, dan warganya hidup rukun), demikian harapan yang tersirat dalam setiap doa yang dipanjatkan. “Adat yang baik mari dilestarikan, keleman ini adalah bentuk rasa syukur kita, sedekah dari sebagian harta kita, ibarat air di sumur jika sering kita ambil airnya untuk dikeluarkan sedikit, maka air dalam sumur itu akan selalu jernih dan tidak berbau, tapai kalau kita biarkan saja airnya akan keruh dan berbau, begitu juga harta kita semakin sering kita keluarkan untuk sedekah maka akan memurnikan rezeki kita” lanjut Bapak Kepala Desa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top